Awal Berkenalan
2024
Aku masih ingat hari itu, saat saudaraku mengenalkan kami melalui pesan singkat. Aku sedikit skeptis, tapi rasa penasaran membuatku membalas pesannya.
Hari-hari berlalu, dan kami mulai chattingan. Jarak yang jauh tidak menjadi penghalang untuk kami mengenal satu sama lain. Kami membahas hal-hal kecil, dari hobi hingga impian. Aku terkesan dengan caranya yang santai dan humoris.
Saat itu, aku tidak menyadari bahwa aku sedang jatuh cinta. Kami hanya chattingan, tapi rasanya seperti kami sudah mengenal satu sama lain sejak lama. Kami membahas tentang masa depan, tentang apa yang ingin kami capai, dan bagaimana kami ingin menjalani hidup bersama.
Suatu hari, aku memutuskan untuk mengungkapkan perasaanku. "Hai, aku ingin tahu, apa kamu merasa sama seperti aku?" tanyaku dengan hati yang berdebar. Jawabannya membuatku tersenyum, "Aku merasa sama, aku ingin kita bisa bersama suatu hari nanti."
Saat itu, aku tahu bahwa kami akan memiliki masa depan bersama. Meskipun jarak memisahkan kami, cinta kami tidak akan pernah padam. Kami akan terus berjuang, hingga kami bisa bersama, hingga kami bisa mengatakan "aku cinta kamu" secara langsung.
Lamaran
2025
Empat bulan berlalu dengan sangat cepat, dan kami semakin yakin bahwa kami ingin menghabiskan sisa hidup bersama. Suatu hari, aku memutuskan untuk membuat rencana yang spesial.
Aku meminta bantuan saudaraku untuk membawa aku ke tempat yang sama di mana kami pertama kali bertemu, tapi kali ini, aku memiliki rencana lain. Aku membawa cincin dan bunga, dan aku berencana untuk melamarnya di depan saudara dan keluarga.
Saat kami tiba di tempat itu, aku meminta saudaraku untuk membawanya ke taman yang indah, di mana aku sudah menyiapkan semuanya. Aku berlutut, memegang tangannya, dan bertanya, "Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersama kamu, mau jadi istriku?"
Dia menangis, dan menjawab "iya" dengan suara yang lembut. Aku memasang cincin di jarinya, dan kami berpelukan dengan bahagia. Saudara dan keluarga kami yang menyaksikan semuanya tersenyum dan bertepuk tangan.
Saat itu, aku tahu bahwa ini adalah awal dari bab baru dalam hidup kami. Kami akan memulai perjalanan baru, bersama-sama, dengan cinta yang semakin kuat setiap hari.
Menikah
2026
Di antara hangatnya pelukan keluarga lebaran kali ini, ada satu janji yang diam-diam bersemi semakin nyata—janji yang dulu hanya kita bisikkan dalam doa, kini akan kita wujudkan dalam ikatan suci pernikahan. Setelah perayaan Lebaran usai, kita akan melangkah bersama menuju satu pintu yang sama: gerbang kehidupan baru sebagai suami dan istri.
Aku masih ingat bagaimana semuanya bermula. Dari perkenalan sederhana, percakapan yang awalnya canggung, hingga akhirnya menjadi tempat pulang yang paling menenangkan. Kita belajar menerima kekurangan, merawat kepercayaan, dan menguatkan satu sama lain saat dunia terasa berat. Tidak selalu mudah, tetapi selalu berarti.
Kini, setelah Ramadan menyucikan hati, kita memilih untuk menyempurnakan cinta ini dengan janji suci. Bukan hanya janji untuk saling mencintai saat bahagia, tetapi juga untuk saling menggenggam saat ujian datang. Janji untuk tetap berjalan beriringan, meski langkah terkadang tak seirama.
Semoga dalam setiap detik perjalanan nanti, kita selalu berada dalam lindungan-Nya. Saat rezeki datang, semoga kita menjadi hamba yang pandai bersyukur. Saat ujian menghampiri, semoga kita menjadi hamba yang semakin bertakwa. Semoga rumah yang kita bangun bukan hanya berdiri dari dinding dan atap, tetapi dari doa-doa yang tak pernah putus, dari sabar yang terus dirawat, dan dari cinta yang tumbuh karena Allah.
Kita akan belajar menjadi teman hidup yang saling mendukung mimpi, menjadi pendengar yang setia, menjadi pelindung satu sama lain. Kita akan tertawa di ruang tamu kecil kita, mungkin berselisih paham sesekali, lalu berdamai sebelum tidur karena tak ingin ada jarak di antara hati.
Dan dalam setiap doa yang kita panjatkan, semoga Allah menjadikan keluarga kita keluarga yang sakinah, mawaddah, dan warahmah—penuh ketenangan, cinta yang menghangatkan, dan kasih sayang yang tak pernah surut oleh waktu.
Lebaran 2026 bukan hanya tentang kemenangan setelah berpuasa. Ia menjadi penanda bahwa cinta yang kita jaga dengan kesabaran akhirnya menemukan pelabuhannya.
Setelah itu, bukan lagi “aku” dan “kamu”.
Melainkan “kita” — dalam satu janji, satu arah, dan satu tujuan: bersama hingga surga-Nya.